GM Indonesia Fokuskan Bisnis Sebagai Importir?

Manfaatkan Murahnya Pajak, GM Indonesia Ubah Strategi Bisnis Jadi Importir – Kabar terbaru datang dari General Motors (GM) Indonesia yang telah bulat mengambil keputusan untuk menutup perakitan produk Spin yang ada di pabrik Pondok Ungu, Bekasi dan Jawa Barat. Hal tersebut dengan otomatis mengubah status perusahaan yang awalnya sebagai produsen menjadi perusahaan importir.

manfaatkan-murahnya-pajak-gm-indonesia-ubah-strategi-bisnis-jadi-importir

Langkah yang diambil oleh GM tersebut ditempuhnya dengan memanfaatkan perjanjian dagang bebas (ASEAN-Korea Free Trade Area/ AK-FTA) yang terjalin antara Korea Selatan dengan ASEAN. Jalinan kerja sama tersebut digunakan oleh GM Indonesia sebagai peluang strategi bisnis yang baru.

Marc Comeau, selaku Vice President GM Korea mengatakan, apabila banyaknya regulasi baru yang terjadi terutama perjanjian antara pemerintah negara lewat pasar bebas, memicu para pelaku bisnis untuk mengubah strategi bisnisnya. Kini, lewat FTA, maka lahirlah regulasi baru. Memang di satu sisi, regulasi baru tersebut cukup memberi tekanan, tetapi sekaligus menciptakan sebuah peluang baru.

Dari kutipan yang dilansir pada halaman KompasOtomotif, Kamis (22/10/2015) bahwa Marc juga menyatakan bahwa pihak mereka sebagai perusahaan harus bisa menentukan sebuah langkah yang paling tepat untuk negara pada kawasan regional untuk kedepannya. Tuturnya di Bupyeong, Korea Selatan.

separator

Sementara Presiden Direktur PT GM Indonesia, Gaurav Gupta, juga menambahkan bahwa memang banyak pertanyaan yang muncul terkait keputusan GM Indonesia menutup pabrik yang berada di Bekasi. Namun, GM Indonesia tetap yakin akan mampu menawarkan berbagai jenis produk yang beragam untuk konsumen di Indonesia.

Lewat perjanjian yang dilakukan melalui AK-FTA, nantinya seluruh mobil yang diimpor utuh (completely built up/CBU) yang berasal dari negeri Ginseng, Korea ke Indonesia akan mendapatkan sejumlah keringanan pada Pajak Bea Masuk. Beban pajak BM tersebut yang sebelumnya berjumlah 40 persen, maka sejak diberlakukannya perjanjian FTA tersebut yang berlaku sejak tahun 2012 lalu berkurang menjadi hanya 15 persen.

Untuk itulah, mulai pada tahun 2016 mendatang BM akan mulai dikurangi lagi nilainya hingga menjadi sekitar 5 persen saja. Tentu, hal ini membuat beban menjadi lebih ringan, sehingga keputusan dari GM Indonesia tersebut nantinya akan mengandalkan pasokan mobil dari impor akan lebih minim resiko, daripada harus tetap mengelola fasilitas perakitan di Indonesia. Baca juga Toyota Recall 5 Model Mobil Karena Masalah pada Power Window dan General Motors Siapkan Varian SUV Diesel Terbaru di Tengah Skandal Emisi VW

Top