Soal Strategi Penjualan, Suzuki Akui Pernah Mengekor Honda

Sempat Ikuti Cara Jualan Kompetitor, Suzuki Kini Tobat – Rivalitas pabrikan motor di Indonesia seolah tiada habisnya. Selain berperang lewat produk yang dijual di pasaran, banyak di antara pabrikan motor yang memiliki strategi masing-masing untuk saling jegal. Meskipun sejauh ini, strategi yang dilakukan masih sportif dan tidak terlalu ekstrim.

Sempat Ikuti Cara Jualan Kompetitor, Suzuki Kini Tobat

Hal ini juga diakui oleh pabrikan yang masuk dalam daftar ‘big four’ di Indonesia, yaitu Suzuki. Suzuki mengungkapkan jika pada beberapa periode yang lalu, pernah mengekor cara penjualan kompetitornya, yaitu Honda dan Yamaha. Diakui oleh Suzuki, kala itu cara penjualan dengan mengikuti trend para kompetitor berlangsung gagal. Dan kini mereka siap dengan startegi sendiri untuk menciptakan market di industri roda dua, tak lagi sekedar ikut-ikutan.

Advertisement

Saat ini yang paling konsisten dalam menciptakan pasar sendiri dan strategi mandiri bisa dibilang adalah Kawasaki. Pabrikan berjuluk geng ijo ini, memang dikenal bukanlah pabrikan ‘follower’. Untuk segmentasi pasarnya, mereka lebih memilih membentuk market sendiri. Salah satunya jelas, dengan penguatan line-up di segmen motorsport dan trail. Untuk segmen matik atau moped, Kawasaki sama sekali tidak berminat untuk mengupgrade. Hasilnya? Kawasaki sekarang bisa berbangga dengan penjualan motorsportnya. Lalu bagaimana dengan Suzuki?

“Dulu puluhan tahun membangun image balap, sekarang diambil tetangga”, ujar salah satu petinggi Suzuki, Giri S Triatmojo, dilansir dari laman Mesinbalap, hari jumat (8/1).

Suzuki juga tak malu mengakui, jika sebelumnya sempat mengikuti strategi Honda dengan ‘tagline’ irit. Ternyata tagline tersebut berlangsung gagal, sebab konsumen masih menganggap motor Honda merupakan yang paling irit. Mindset ini masih berlaku hingga sekarang.

“Kita lari dari identitas kita, latah dengan promosi irit. Ternyata irit punya tetangga. Sementara kita punya diferensiasi yang jelas”.

“Waktu itu kita mengejar volume. Orang mencari kendaraan yang memiliki tingkat ekonomis tinggi. Kita pun ikut-ikut bikin lomba irit. Ternyata identitas irit milik tetangga,” sambung Giri lagi.

Tagline irit sempat disematkan di iklan Suzuki Smash beberapa tahun lalu. Tapi tetap saja penjualannya stagnan dan kurang berhasil di pasaran.

“Kita sadar irit bukan milik kita. Walaupun Suzuki Nex lebih irit dari kompetitor, persepsi kencang, durabel dan irit tidak berkorelasi (dengan Nex)”, jelasnya.

“Kami harus akui mereka bergerak cepat. Kita sudah 10 tahun melawan kompetitor dengan cara kompetitor. Sekarang tidak lagi. Tapi berusaha dengan market share yang nyaman, tak tergiur mengejar volume namun meninggalkan profit,” pungkas Giri. Baca juga 9 Januari, Motor Terbaru Yamaha Dirilis dan KMI Rilis Ninja 250 SE Limited Edition dengan Beberapa Perbedaan.

Top