Mobil Murah Namun Tak Laku

Nasib Datsun Yang Tak Laku – Hukum ekonomi menyatakan bahwa konsumen selalu condong kepada harga murah. Dengan prinsip ekonomi, mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan pengorbanan yang sesedikit mungkin agaknya menjadi konsep penjelas dalam perilaku ekonomi manusia. Namun nampaknya hal tersebut tidak berlaku untuk Datsun. Ditengah dolar yang kalaupun turun tidak dapat dianggap sebagai hal yang melegakan, seharusnya mobil di bawah 100 juta rupiah menjadi primadona. Namun bagi Datsun Go+ Panca D dan Datsun Go Panca A nampaknya ada anomali ekonomi yang terpaksa mereka alami.

perbedaan tipe datsun go+

Dengan harga berkisar 95 juta rupiah, dua varian Datsun tersebut terpaksa menelan pil pahit menyandang predikat tidak laku. Sebagaimana disadur dari Liputan6.com (5/4/2016), belum ada satu pun penjualan tercatat untuk kedua varian tersebut. Padahal konsep yang diusung telah didukung pemerintah melalui semboyan Low Cost Green Car, namun apa kata nasib tidak berpihak pabrikan yang satu ini. Walaupun masih saja mungkin sebenarnya terjadi penjualan yang belum tercatat, namun nampaknya agak lucu kalau-kalau masalah administrasi seperti ini masih terjadi hingga bulan keempat 2016.

Statistik Datsun ini nampaknya berbanding terbalik pada saingan satu kelas LCGC. Sebut saja varian Daihatsu menjadi top leader dalam penjualan LCGC ini. Melalui Daihatsu Ayla D+ (MT), pabrikan ini berhasil menggaet 842 konsumen untuk memiliki mobil satu ini. Padahal, mobil satu ini diproduksi secara lokal. Artinya, masyarakat Indonesia sudah tidak begitu memerdulikan kewarganegaraan produsen mobil, asalkan dijamin kualitasnya dari merk tertentu. Nah, lucunya lagi, Daihatsu Ayla D+ (MT) ini ternyata memiliki harga yang lebih mahal dari Datsun Go + Panca dan Datsun Go Panca A. Dengan harga dasar 99.25 juta rupiah, entah dari sisi mana yang menjadi kelebihan sehingga masyarakat lebih memilih produk mahal dibandingkan produk Datsun yang lebih murah.

Kalau dilihat dari spesifikasi, Daihatsu Ayla D+ menggunakan mesin 3 silinder berkapasitas 998 cc yang mampu menghasilkan tenaga 65 kW pada 6.000 rpm. Mobil Daihatsu ini juga juga memiliki fitur electric power steering, itupun masih ditambahkan tipe rem disc (roda depan) dan tipe rem drum (roda belakang). Sedangkan varian termahal dari Datsun, Datsun Go+ Panca D berkapasitas mesin 1,198 cc dengan spesifikasi kekuatan 50 kW/5000 rpm. Untuk pengeramannya sendiri memiliki spesifikasi yang sama dengan pesaingnya. Rasanya untuk kekuatan mesin masih berada pada angka sebelas duabelas. Jadi mungkin rasanya perilaku ekonomi masyarakat Indonesia pada kasus kali ini lebih pada masalah Branding. Baca juga Spesifikasi Di Atas Kertas vs Pengujian Mandiri CBR500R dan KTM Motor Model Sayap Honda.

Top