Pengganti Ford Sedang Diproses

Tak Mau Mengulangi Kesalahan, Ford Blak-Blakan – Nasib malang bisa dibilang menimpa Ford Motor Indonesia. Sudah bisnisnya dapat dibilang gagal sehingga terpaksa pulang ke negara asalnya, digugat pula oleh konsumennya karena merasa diabaikan. Terang saja, dengan tidak dibuatnya basis produksi Ford di Indonesia, dapat menjadi dalih utama kenapa bisnis Ford di Indonesia bisa dibilang gagal. Buktinya, vendor asing lain yang tidak enggan membuat pabrik di Indonesia masih berjaya sampai sekarang.

pengganti-ford-sedang-diproses

Bak jatuh tertimpa tangga, mau menghindari kerugian yang disebabkan rimba otomotif yang tak menntu malah berbuntut panjang. Gugatan perbuatan melawan hukum dilayangkan oleh pecinta Ford yang akhirnya menjadi bukti bahwa Ford sebenarnya masih memiliki basis pasar di Indonesia. Meski demikian, keputusan Ford sudah diketok dan konsumen setia tidak terima ditinggalkan oleh Ford. Merasa bersalah, Ford pun memilih berdamai di pengadilan ketimbang harus dinyatakan bersalah oleh pengadilan.

Isi perdamaian itu pada pokoknya sederhana, yakni harus ada yang bertanggung jawab mengurusi urusan purna jual, utamanya masalah sparepart. Terang saja, mobil sebaru apapun juga membutuhkan sparepart. Tanpa Sparepart, bisa saja keluaran Ford yang terbaru dan yang terakhir menjadi bangkai besi akibat kehabisan kampas rem. Siapa lagi yang bisa dipersalahkan kecuali produsen? Tentunya dengan besar hati FMI pun mengikuti kemauan konsumen. Namun yang jelas, FMI terlalu besar untuk sekedar mengurusi urusan purna jual. Akhirnya FMI diwajibkan untuk menunjuk pihak yang bertanggung jawab menanganinya di Indonesia.

Dikutip dari Kompas (13/4/2016), Nugroho Suharlim, Chief Operating Officer Auto Kencana (AK) Group membeberkan informasi bahwa telah ada 6 calon ‘petugas’ yang bertanggung jawab di Indonesia. Salah satu dari ke enam calon tersebut adalah gabungan dari calon mantan diler Ford di Indonesia. Tentunya dengan berbekal pengalaman dalam dunia Ford di belantara Indonesia, membuat Gabungan Diler ini menjadi saingan kuat. Buktinya, dari 6 calon tersebut, hanya 2 yang lolos pada tahap pertama. Sang calon mantan diler Ford dan perusahaan asing asal Thailand. Tahap pertama tersebut adalah tahap penjelasan fungsi dan tugas sebagai kaki tangan Ford di Indonesia.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa syarat utama untuk menjadi kaki tangan Ford di Indonesia adalah berbentuk badan hukum. Artinya, apabila memang konsorsium itu nanti yang menang, maka wajib bagi mereka membuat badan hukum baru. Untuk tahap selanjutnya, akan diadakan telaah finansial utnuk menilai kesiapan petugas Ford tersebut. Siapakah yang akan memenangkan kursi panas ini? Thailand atau calon mantan Diler Ford Indonesia? Baca juga Dengan Hengkangnya Ford, Investasi Otomotif RI Tidak Terkena Dampak Signifikan dan Konsumen Tidak Terima Ditinggalkan Ford.

 

Top