Ini Hukuman Penyalahgunaan Trotoar

Trotoar Siap Menghantar Ke Penjara – Kasus otomotif tak selalu melulu mengenai kecelakaan atau pencurian. Jika berbicara mengenai lalu lintas, tentunya yang terbanyak dilakukan namun tak disadari adalah pelanggaran lalu lintas. Mulai dari lampu merah hingga lupa ‘light-on’, bisa dibilang menjadi makanan sehari-hari pengamat jalanan.

ini hukuman penyalahgunaan trotoar

Entah mungkin karena kebiasaan atau apa, yang jelas kejadian memalukan mengenai pengemudi kendaraan yang menggunakan trotoar sebagai jalannya akhirnya sampai pada titik kulminasinya. Tamparan yang keras tentu ditujukan pada kejadian yang sempat terekspos oleh media lantaran siswa SD terpaksa menggantikan tugas Pak Polisi Lalu Lintas untuk ‘menilang’ pengendara motor yang nakal lantaran menggunakan trotoar selayaknya jalan punya kakek-neneknya.

Bisa dibilang, mungkin hal tersebut merupakan reaksi greget seorang anak SD yang bingung melihat apa yang diajarkan gurunya di sekolah tak pernah dilakukan oleh orang-orang yang secara umur lebih berpendidikan daripadanya. Walaupun demikian, ternyata secara hukum perilaku pengendara motor tersebut memang memiliki ancaman pidana yang cukup serius.

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mengatur bahwa torotar merupakan fasilitas pejalan kaki. Hal tersebut sudah jelas terbaca melalui Pasal 45 jo. Pasal 131 Undang-Undang tersebut. Tentu, logika orang normal akan menyatakan bahwa fasilitas pejalan kaki tidak untuk digunakan oleh kendaraan besi manapun. Oleh karena itu, Undang-Undang ini mengatur hukuman yang jelas terhadap orang-orang yang melanggar kenormalan tersebut.

Pasal 275 UU tersebut menyatakan bahwa, Setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi Rambu Lalu Lintas, Marka Jalan, Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, fasilitas Pejalan Kaki, dan alat pengaman Pengguna Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Pidana tersebut meskipun bisa dibilang ringan, namun harga diri sebagai warga negara yang baik dipertaruhkan dengan status terpidana atas pelanggaran lalu lintas tersebut. Perlu diketahui pula, pasal tersebut tidak hanya ditujukan bagi pengguna roda dua saja. Secara umum, penggunaan trotoar yang tidak sebagaimana mestinya seperti tempat parkir, tempat jualan, tempat nongkrong, dan lain-lain juga akan menjadi terpidana atas dasar ketentuan tersebut. Logikanya sudah jelas, apabila trotoar tak dapat digunakan maka pejalan kaki terpaksa beradu jalan dengan kendaraan besi lainnya. Baca juga Marc Marquez Diduga Melakukan Pelanggaran Kontrak dan Peminang Toyota Sienta Perlu Re-Check Sebelum Pulang.

Top