Pekerja Hyundai di Kampung Halamannya Gelar Aksi Mogok Nasional, Mengapa?

Upah Bermasalah Pekerja Hyundai Korsel Mulai Menyerang – Kabar terbaru hadir dari kampung halaman Hyundai di Korea Selatan. Kabarnya, Hyundai kini tengah kembali terlilit masalah pekerja di negeri asalnya tersebut. Awalnya, tekanan dari para pekerja tersebut dimulai oleh Serikat Pekerja melalui  protes yang dimulai pada bulan Juli 2016 lalu, rupanya kali ini aksi protes tersebut bukannya semakin reda malah memuncak.

upah bermasalah pekerja hyundai korsel mulai menyerang

Berdasarakan informasi Reuters yang dirangkum melalui halaman KompasOtomotif, Selasa (27/09/2016) tertulis bahwa Para pekerja Hyundai menggelar aksi mogok nasional, untuk pertama kalinya sepanjang 12 tahun, aksi mogok ini dimulai pada Senin , tanggal 26 September kemarin. Setelah diselidiki, rupanya aksi ini dilakukan akibat masalah pada upah. Selain itu, kondisi tersebut diperkirakan akan menempatkan laba perusahaan dan target penjualan berisiko.

Advertisement

Seperti diketahui, Korea Selatan memang merupakan pusat dari produksi terbesar Hyundai di dunia. Dalam hal ini, pabrikan tersebut merupakan kontributor yang menyumbang sekitar 40 persen secara keseluruhan. Sejak perselisihan terjadi mulai semakin terbuka pada Juli lalu, Hyundai sendiri telah mengalami kerugian produksi sebanyak 101. 400 unit, setara dengan 2,23 triliun won atau Rp 26,2 triliun. Dari angka tersebut, dikatakan bahwa hal ini merupakan angka kerugian terbesar Hyundai apabila melihat dari sisi nilai kendaraan yang diproduksi dan dijual.

Dalam kesempatannya Eim Eun-young, selaku analis mobil dari Samsung Securities mengatakan “Pemogokan tahun ini berlangsung lebih lama dari yang diharapkan. Pendapatan kuartal ketiga harus mengecewakan,” ujarnya.

Menanggapi hal ini, pihak Hyundai sendiri mengungkapkan rasa kecewanya terhadap aksi pemogokan kerja yang berujung pada penghentian produksi. Selain itu, mereka juga mengaku saat ini tengah melakukan komunikasi terus-menerus dengan serikat pekerja, tentu saja demi menyelesaikan sengketa ini.

Sementara itu, kabar terakhir yang terdengar adalah bahwa saat ini para pekerja yang semuanya berjumlah  48.000 karyawan menegaskan bahwa mereka akan terus melakukan pemogokan secara bertahap, sambil terus menyuarakan keinginannya yaitu menuntut kenaikan 7,2 persen untuk upah pokok dan insentif sebesar 30 persen dari laba bersih, di tahun 2015.

Top