Bahayanya Bonceng Motor Menghadap Samping

Bahaya Bonceng Motor Menghadap Samping – Bonceng samping merupakan hal yang sudah tidak aneh lagi di masyarakat. Ya, hal ini memang sudah menjadi kebiasaan yang bisa dikatakan salah kaprah di masyarakat kita. Namun tahukah Anda bahwa hal tersebut sangat berbahaya dan sangat tidak disarankan melakukannya.

Bahaya Bonceng Motor Menghadap Samping

Hal ini pun dibenarkan oleh Infrastruktur dan Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu. Menurutnya, duduk menyamping saat membonceng motor sangatlah berbahaya. Tak hanya itu saja, membawa anak kecil berdiri saat membonceng motor juga salah. “Duduk samping saja tidak benar, semua harus menghadap ke depan (saat menjadi penumpang sepeda motor-Red). Dan duduk bawa anak kecil berdiri itu salah, kalau memang harus dibawa mereka harus duduk. Agar bisa lebih mencengkram, kalau berdiri saat menghindari lubang bisa terpeleset,” kata Jusri.

Lantas, bagaimana jika hal tersebut tidak bisa di hindari. Bonceng menyamping memang sering dilakukan oleh para wanita khususnya para hijabers yang memang akan sulit jika membonceng dengan menghadap kedepan. Menurutnya, kalaupun hal tersebut terpaksa dilakukan, hal tersebut tetap di anggap pelanggaran karena tak hanya membahayakan pelaku namun jika pengguna jalan lain. “Kembalikan, kalau kecelakaan bagaimana? Intinya dari kaidah keselamatan dan hukum, perilaku tersebut dianggap pelanggaran,” katanya.

Tak hanya itu saja, berdasarkan fakta yang ada, penyebab kecelakaan biasanya memang diawali dari pelanggaran aturan lalulintas. Seperti, ketika seseorang melampaui batas maksimal kecepatan yang diperkenankan ataupun menerobos lampu lalulintas.  “Fakta menyimpulkan penyebab kecelakaan adalah pelanggaran. Sebagai informasi safety is no exemption atau no compromise. Pelanggaran dan kecelakaan umumnya diawali dari tanda-tanda kompromi,” tambahnya.

Untuk itulah, semoga dengan semakin sadarnya masyarakat akan keamanan dalam berkendara, masyarakat tentu diharapkan untuk dapat mematuhi peraturan lalulintas yang memang dibuat untuk kepentingan keamanan para pengguna jalan. Namun demikian, tak mudah memang untuk dapat meninggalkan kebiasaan salah yang sudah menjadi umum atau biasa disebut dengan salah kaprah. Pasalnya, tak hanya masyarakat yang memang terkadang mentolerir kebiasaan salah ini dengan berbagai dalih namun juga terkadang aparat berwenang turut memberikan toleransi terhadap kesaslahan yang dilakukan dengan berbagai alasan.

Top