Dipesan Ribuan Unit, Baleno “Hatchback” Ganggu Yaris dan Jazz

Kehadiran Suzuki Baleno Hatchback Menuai Hasil Positif – Kabar baik datang dari Suzuki Indomobil Sales (SIS). Setelah dikabarkan akan merilis Ertiga generasi baru, pabrik asal Jepang tersebut pun juga telah berhasil menuai hasil positif dari mobil terbarunya, yakni Baleno hatchback. Pasalnya, sejak resmi diluncurkan dalam pameran otomotif nasional di bulan Agustus 2017 lalu, surat pemesanan kendaraan (SPK) sudah mencapai ribuan unit.

Kehadiran Suzuki Baleno Hatchback Menuai Hasil Positif

Dalam kaitannya dengan fakta tersebut, belum lama ini pun Donny Saputra selaku Direktur Pemasaran SIS 4W juga turut menjelaskan di mana dalam penjelsannya tersebut, ia mengatakan bahwa Baleno hatchback memang telah mendapat respons positif dalam waktu yang cukup singkat. Angka tersebut tidak lepas dari penerapan strategi harga serta nama besar dari Baleno di Tanah Air.

“Sejak diluncurkan hingga akhir Agustus 2017 kemarin sudah lebih dari 1.700 unit secara nasional, ini positif sekali dalam waktu 20 hari,” ucap Donny saat berbincang pada Senin (11/9/2017).

Sementara itu, berkaca dari rata-rata angka penjualan mobil di segmen hatchback Tanah Air, tampaknya angka tersebut jadi modal untuk Baleno bersaing dengan dua penguasa utama, yakni Honda Jazz dan Toyota Yaris. Pasalnya, berdasarkan dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), diketahui bahwa penjualan Jazz pada Juli 2017 lalu di angka 1.112 unit sedangkan Yaris 702 unit.

Di sisi lain, Head of Research and Brand Development 4W SIS yang dijabat oleh Harold Donel pun mengatakan bahwa jika melihat dari SPK yang masuk, tertinggi dikuasai tipe Baleno hatchback matik dengan persentase hampir 65 persen.

“Tipe tertinggi paling laris, kalau dari wilayah, Jabodetabek masih menjadi kontribusi besar, lalu Surabaya. Pecapaian ini memang cukup membuat kami kaget, karena di luar dari prediksi awal,” kata Harold di sela waktu yang sama.

Namun, ketika ditanya terkait dengan rencananya untuk menerapkan produksi lokal, Harold menjelaskan bahwa untuk saat ini pihaknya masih melihat perkembangan pasar lebih dulu dalam waktu beberapa bulan ke depan.

“Kita pantau empat sampai enam bulan seperti biasa, lihat tren selama masa honeymoon sesion dulu, karena biasanya tiga bulan baru kelihatan naik-turunnya. Dari kami sebenarnya ingin lokal dengan harga yang tetap, tapi will see,” tegas Harold.

Top