Stigma Mobil China Buruk, Ini Komentar Wuling

Stigma Mobil China – Wuling menjadi merek China yang kesekian kalinya datang ke pasar otomotif Tanah Air. Sebagai merek asal negeri Tirai Bambu, Wuling memang memiliki banyak tantangan untuk dapat hadir di Tanah Air. Bagaimana tidak, beberapa pabrikan asal China lain yang sudah terlebih dahulu meluncur di Tanah Air eksistensinya hanya sementara. Hal ini lah yang membuat banyak pihak beranggapan negatif kepada Wuling yang notabene merek asal China.

Stigma Mobil China

Meskipun demikian, Wuling menanggapinya dengan sangat positif. Pihaknya justru menjadikan anggapan negatif tersebut untuk memacu dan membuktikan jika pihaknya memiliki komitman tinggi untuk dapat bersaing di Indonesia. Hal tersebut pun dibuktikan dengan keseriusan Wuling dalam mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk bersaing di Indonesia. Bahkan tak tanggung-tanggung, sebelum resmi meluncurkan mobil pertamanya pada ajang GIIAS 2017 lalu, Wuling telah mempersiapkan selama 2 tahun.

Hal tersebut seperti diungkapkan oleh Jiaxian Ding, Brand & Marketing Director Wuling Motors yang Mas Sena lansir dari KompasOtomotif. Dirinya mengatakan jika keseriusan dan komitmen Wuling untuk hadir di Indonesia dapat dilihat mulai dari jumlah investasi yang digelontorkan dan berbagai hal lain. “Teman-teman bisa lihat dari apa yang kami lakukan di sini sejak dua tahun lalu. Semua yang kami persiapkan untuk jangka panjang, seperti soal investasi yang kami gelontorkan di Indonesia, produksi, membangun jaringan pemasok suku cadang, penjualan dan purnajual. Itu semua memperlihatkan kami ada di sini untuk serius,” ujarnya.

Selain itu, Wuling juga memiliki rekam jejal yang baik untuk dapat membuktikan ke publik otomotif Indonesia. “Apa yang bisa kami lakukan, yaitu memperlihatkan rekam jejak kami dan melakukan yang terbaik,” tambahnya. Jiaxian juga menambahkan jika tidak ada strategi khusus yang dilakukan Wuling untuk dapat berkompetisi dengan pabrikan lain di Indonesia yang didominasi pabrikan Jepang. Menurutnya, Wuling hanya perlu konsisten untuk membuktikan keseriusannya di Indonesia. “Itu cuma soal teknis, tak ada strategi yang berbeda, jika kami terus melakukan apa yang sudah kami lakukan sekarang secara konstan, itu sudah menjadi strategi tersendiri,” pungkasnya.

Top