Ini Alasan Sepeda Motor Tidak Laku di Jepang

Alasan Sepeda Motor Tidak Laku di Jepang – Sepeda motor saat ini sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi orang Indonesia. Kemudahan yang ditawarkan oleh kendaraan roda dua ini memang membuat banyak masyarakat memilihnya menjadi transportasi utama. Seperti yang diketahui, mayoritas sepeda motor yang dipasarkan di Indonesia merupakan pabrikan asal Jepang. Bahkan hampir tidak kurang dari 90% merek motor yang berjaya di Indonesia merupakan merek asal pabrikan Negeri Matahari tersebut.

Alasan Sepeda Motor Tidak Laku Di Jepang

Namun rupanya sebagai negara “pembuat sepeda motor”, di Jepang kendaraan roda dua ini justru tidak selaris di Tanah Air, dan bahkan bisa dikatakan tidak laku. Berbanding terbalik dengan masyarakat Indonesia yang lebih memilih menggunakan sepeda motor ketimbang transportasi umum, orang Jepang justru lebih memilih naik transportasi umum ketimbang sepeda motor. Bukan tanpa alasan, mengingat transportasi umum di Jepang dinilai lebih murah dibanding menggunakan kendaraan pribadi.

Selain itu harga parkir untuk kendaraan yang mahal di Jepang juga menjadi alasan lain orang jepang tidak suka menggunakan kendaraan pribadi. Seperti yang Mas Sena lansir dari Liputan6Otomotif, disebutkan jika biaya parkir di Jepang per jam dapat mencapai 200 yen atau setara dengan 23 ribuan. Bahkan ketika musim dingin, parkir motor di Jepang dapat lebih mahal dari angka tersebut.

Tidak hanya itu saja, berbeda dengan Indonesia di mana masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan surat ijin mengemudi (SIM) motor, di Jepang kendaraan berkapasitas di atas 250 cc diharuskan untuk menggunakan SIM yang sama dengan mobil. Hal tersebutlah yang membuat banyak orang Jepang lebih memilih mobil dari pada motor.

Memang, sebagai negara produsen otomotif di dunia, jalanan Jepang justru tidak dibanjiri dengan mobil-mobil ataupun motor yang membuat macet. Masyarakat Jepang justru lebih menyukai untuk menggunakan transportasi publik atau bahkan jalan kaki ketimbang menggunakan kendaraan pribadi. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan Indonesia yang justru lebih menyukai kendaraan pribadi ketimbang menggunakan transportasi umum. Hal ini tentu perlu menjadi sebuah catatan positif bagi kita untuk dapat dicontoh dan diterapkan di Indonesia.

Top