Pelarangan Mobil Tua Turun ke Jalan, Solutif kah?

Pelarangan Mobil Tua di Jakarta – Belum lama ini, mobil tua di semakin “terdongkrak” namanya. Jika terdongkrak karena banyak peminatnya, itu sudah biasa. Tapi kali ini mobil dengan usia tua kembali dibicarakan karena justru akan dilarang mengaspal lagi di Ibu Kota.

aturan pelarangan mobil tua bukan solusi

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengatakan akan ada penerapan pembatasan usia kendaraan pribadi di atas 10 tahun. Lelaki yang akrab disapa Ahok itu,  menginginkan warga beralih ke angkutan umum, seperti kota besar di negara maju. Hal ini dinilai akan sangat membantu mengatasi kemacetan Ibu Kota. Polusi udara pun dinilai akan semakin berkurang. Mas Sena yakin, anda paham betul separah apa polusi udara di Jakarta.

Wacana kebijakan itu mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2014 Pasal 78 ayat 2 tentang transportasi. Kebijakan tersebut rencananya baru berlaku pada 2016 saat transportasi umum sudah memadai. Pilihan usia 10 tahun juga dirasa “lunak”. Sebab di luar negeri,  mobil yang usianya sudah 55 tahun sudah harus “dicoret” peredarannya. Mobil berumur 10 tahun memang tetap akan bisa beredar di Jakarta, tapi konsekuensinya pemilik wajib menjaga kelayakan jalan dan membayar pajak kendaraan bermotor yang lebih tinggi dari sebelumnya. Tapi apa pemberlakukan pelarangan mobil tua itu bakal benar-benar jadi hal yang solutif?

Membahas wacana pelarangan itu, justru muncul pendapat bahwa membatasi peredaran kendaraan di Jakarta berdasarkan usia dinilai diskriminatif terhadap pemilik mobil tua. Tidak main-main, hal itu “tercetus” dari sekitar 40 komunitas pemilik mobil tua berkumpul di Parkir Timur, Senayan, Jakarta.

Diskriminatif disini maksudnya menunjuk pada kalangan yang kantongnya tidak terlalu tebal, namun ingin punya mobil untuk sekedar “menampung” anggota keluarganya. Presiden Forum Komunikasi Klub dan Komunitas Otomotif (F3KO) Amroe Wahyudi menjelaskan bahwa saat ini pun angkutan umum belum aman dan nyaman. Maka “penghilangan” mobil tua dari jalanan Ibu kota menurutnya belum jadi solusi yang tepat. Komunitas berharap dilibatkan sebelum keputusan apapun dibuat.

“Kami tidak mau win-win solution, tapi ‘happy-happy’ solution. Kalau win berarti masih ada benefitnya, tapi kalau pemilik mobil tua itu dasarnya happy. Mungkin dengan adanya bantuan komunitas akan terbentuk apapun bentuk solusinya,” tutup Amroe.

Kepemilikan mobil tua sebenarnya memang berdasarkan dua hal, yaitu hobby dan kondisi kocek yang tidak terlalu tebal. Pelarangan mobil tua untuk “beredar” di Ibu Kota diprediksi akan membuat  mobil tua berbondong-bondong bergeser ke daerah. Semoga memang segera ada jalan keluar untuk keberadaan mesin-mesin tua tersebut. Baca juga Jual Beli Kendaraan Online Makin Cerah dan Honda persiapkan MPV murah.

 

 

 

 

Top