Melemahnya Rupiah Terhadap Dollar AS Tak Pengaruhi BMW

BMW Tak Terpengaruh Melemahnya Rupiah – Memang, di pertengahan tahun 2018 ini, nilai tukar rupiah kian melemah di hadapan nilai mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Bukan sekedar isapan jempol semata namun fakta membuktikan. Dimana, berdasarkan atas data rilis dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada Jumat (20/7), dilaporkan bahwa nbilai tukar rupiah menembus Rp 14.500, tepatnya pada Rp 14.520 per dollar AS.

BMW Tak Terpengaruh Melemahnya Rupiah

Terkait menguatnya dolar, beberapa produsen otomotif di Indonesia pun mulai menyesuaikan label harga pada setiap produk buatannya. Namun, ternyata hal tersebut tak mempengaruhi harga mobil dari salah satu pabrikan, yaitu BMW di Indonesia.

Bukan tak ada sebab, bahkan menurut Jodie O’tania selaku Vice President of Corporate Communications BMW Group Indonesia, ia menegaskan bahwa harga BMW mengacu pada mata uang Euro, bukan Dollar AS. Sehingga, tak ada dampak serius dengan nilai tukar rupiah yang kian melemah hingga saat ini.

“Tidak ada kenaikan, tidak ada pengaruh. Kita berpengaruhnya ke Euro karena BMW itu kan dari Jerman,” kata Jodie saat ditemui beberapa waktu lalu di Sunter.

Di samping itu, terkait dengan soal penyesuaian harga, menurut Jodie sendiri memang selalu ada setiap tahun. Akan tetapi, ia menyatakan jika hal tersebut bukanlah karena kenaikan dolar Amerika.

Dalam hal ini, Jodie sendiri menjelaskan bahwa komponen kendaraan BMW yang dirakit lokal di Sunter juga tak seluruhnya datang dari Jerman, tapi juga ada komponen yang didatangkan dari pabrik BMW di Spartanburg, Amerika Serikat.

“Walaupun ada komponen yang dikirim dari AS, sistemnya kita pakai Jerman sehingga pembeliannya pakai Euro. Sehingga tak ada kenaikan. Base kita adalah Euro,” ujarnya.

Sementara itu jika kita melihat penjualan mobil BMW di Indonesia, memang patut diakui memiliki pangsa pasar yang cukup baik. Terutama di segmen mobil medium atau premium menengah. Hanya saja, untuk harga jual second mobil asal Jerman tersebut, secara umum menurun drastis dibandingkan beberapa mobil second buatan pabrik lain, khususnya dari Jepang.