Mitsubishi Targetkan 100 Ribu Unit Xpander Terjual tahun 2018

Penjualan Xpander Mendekati 100 Ribu Unit – Penjualan Xpander yang begitu membanggakan, membuat pabrikan PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) kembali mendapat optimistis yang tinggi.

Dimana, pabrikan berlogo tiga berlian itu optimis bisa menjual 100.000 unit Xpander sampai akhir 2018, sejak pemasaran perdana Agustus 2017. Sampai Agustus 2018, total pesanan low multi purpose vehicle ( LMPV) Mitsubishi ini sudah diklaim mencapai 80.000 unit.

Penjualan Xpander Mendekati 100 Ribu Unit

“Dari jumlah itu, jumlah yang sudah berhasil di-delivery mencapai 65.000 unit, jadi masih ada outsanding, sekitar satu sampai dua bulan,” kata Imam Choeru Cahya, Head of Sales & Marketing Group di Surabaya pada Sabtu (15/9/2018).

Tak sampai di situ, kapasitas produksi untuk Xpander sendiri, kata Imam, saat ini sudah mencapai 10.000 unit per bulan. Tentu saja, berdasarkan dari jumlah itu, 7.000 unit dialokasikan untuk memenuhi pasar domestik dan 3.000 unit lainnya untuk ekspor.

“Jadi kita harus optimistis (bisa 100.000 unit) tahun ini,” kata Imam.

Sedangkan di satu sisi, berkat gemilangnya penjualan Xpander di Indonesia, secara langsung membuat pabrikan asal Jepang ini berhasil membuat posisi tim MMKSI sebagai barometer bisnis prinsipal Mitsubishi Motors di Jepang. Bahkan, semua strategi yang berkenaan dengan proses promosi maupun pemasaran Xpander pun telah diklaim berhasil dan dibagikan via prinsipal untuk kemudian bisa diadopsi oleh negara lain.

“Memang posisinya beda sekarang. Apa-apa kalau prinsipal menanyakan pendapat pada satu masalah, pasti Indonesia ditanya duluan. Seperti jadi barometer kita ini sekarang,” ucap Imam.

Sementara itu, berkaitan dengan strategi, kali ini pemasaran dan promosi MMKSI mau diadopsi negara lain Di samping itu, terkait hal ini, Imam mengaku tetap bersikap positif saja. “Kami sudah sampaikan strategi di Jepang, jadi apakah nanti diadopsi negara lain, ya bisa saja.

“Cuma begini ya, pertimbangannya kan banyak juga, untuk sekarang ini saja ya, kondisi masing-masing negara kan berbeda, mereka bisa mengopi atau mengembangkan sesuai kebutuhan dan karakteristik pasar masing-masing,” imbuh Imam.

Top