Pemerintah Dukung Penuh Pengembangan Kendaraan Listrik

Kini, Kendaraan Listrik Didukung Penuh Oleh Pemerintah – Satu kabar menarik menyebut bahwa pihak pemerintah kini sudah mulai mendukung penuh langkah Blue Bird Group dalam mengaplikasikan layanan taksi berbasis mobil listrik. Salah satu bentuk dukungan pemerintah tersebut adalah dengan memberikan insentif berupa penghapusan bea masuk dan PPNBM, hingga diskon pengisian listrik sebesar 30 persen.

“Insentif memang diberikan karena kami ingin mendorong mobil listrik ini karena dampaknya besar sekali. Jadi saya juga ingin melihat Indonesia itu maju,” terang Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan saat peluncuran e-Taxi Bluebird pada Senin (23/4).

Kini, Kendaraan Listrik Didukung Penuh Oleh Pemerintah

Tak sampai di situ saja, bahkan di sisi lain, Luhut sendiri juga mengemukakan jika pemerintah akan mendorong Blue Bird Group untuk berinvestasi baik dari sisi baterai lithium atau mobil listrik.

“Mobil listriknya bisa dengan Hyundai, atau bisa dengan mana saja. sehingga kita bisa punya produk dalam negeri sendiri,” katanya.

Di sisi lain, sebagaimana dengan yang sudah diketahui bahwa Hyundai memang berencana untuk membangun pabrik di Indonesia. Jika berjalan sesuai rencana maka secara otomatis pabrik tersebut mulai beroperasi pada 2020.

Selain itu, Luhut juga sempat menyinggung pabrik baterai lithium di Morowali. Pabrik ini akan menjadi modal bagi Indonesia untuk menjadi pemain utama di industri mobil listrik global.

“Kita sudah temukan material dari baterai lithium di Indonesia mungkin antara 60-65 persen, ada nikel dan kobalt dan sekarang sudah diproses di Morowali,” ujarnya.

“Pabrik ini banyak diributin karena dibilang banyak orang Cina-nya. Padahal orang Cina-nya cuma berapa tapi tenaga kerjanya sudah hampir 40 ribu. Pekerja Tiongkok-nya paling cuma 2.900 orang tapi mereka itu ahli-ahli yang kita butuhkan dan sekarang bertahap kita bikin transfer teknologi,” luhut menambahkan.

Tak hanya itu saja, bahkan Luhut juga menyebutkan jika ketahanan energi saat ini penting karena impor energi Indonesia hampir mencapai Rp330-350 triliun setahun.

“Jadi itu membuat current account devisit kita enggak baik,” imbuhnya.