Toyota Berharap Avanza Masih “Pantas” Diandalkan

Toyota Avanza Diharapkan Masih Laris di Indonesia – Toyota Avanza memang menjadi salah satu mobil keluarga yang usianya bakal menginjak ke 17 tahun pada tahun 2020. Tentu saja, di usianya yang cukup lama berkecimpung di pasar otomotif nasional tersebut, Low MPV ini diharapkan penjualannya bisa terus terdongkrak meski berat.

Di tengah semakin ketatnya kompetisi di level Low MPV, tentu menjadi tugas yang tak mudah bagi PT TAM selaku APM untuk mobil Toyota dalam menyaingi para kompetitornya, khususnya produk Avanza. Apalagi, saat ini pasar Low MPV masih dipegang Xpander yang memang terbilang cukup sulit digoyahkan.

Toyota Avanza Diharapkan Masih Laris Di Indonesia

Mengenai hal tersebut, Direktur Pemasaran PT TAM, Anton Jimmy Suwandi justru belum banyak memberikan komentar mengenai usia Avanza yang akan menginjak 17 tahun ini. Hanya saja, ia berharap jika model MPV andalan Toyota ini masih bisa diterima di masyarakat Indonesia sebagai mobil sejuta umat.

“Untuk produk baru no comment lah, kan baru juga minor change. Dari segi angka-angkanya tahun ini Avanza sebenarnya naik. Jadi untuk tahun depan mudah-mudahan masih bisa stay,” ucap Anton kepada wartawan di Jakarta pada Kamis (12/12/2019).

Di sisi lain, Anton sendiri juga sempat mengemukakan jika berdasarkan data wholesales sendiri, penjualan Avanza sepanjang tahun 2019 ini cukup baik dan positif. Apalagi sejak MPV ini mendapat sentuhan penyegaran yang lebih modern.

Pasalnya, sampai pada bulan November 2019, tercatat bahwa untuk penjualannya mencapai 80.700-an. Angka penjualan tersebut tentu mengalami kenaikan jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018 lalu dengan kisaran 75.000.

Tak hanya itu, walaupun pasar Low MPV alami penurunan, menurut Anton, justru market share Avanza melonjak tinggi semenjak dirilisnya model terbaru pada awal tahun 2019 lalu.

“Pasarnya turun tapi market share naik dari 28 menjadi 34 persen untuk wholesales. Penurunan itu sebenarnya semua pasar turun, faktornya karena tahun pemilu yang biasanya market ada koreksi, kedua karena ada faktor global ekonomi,” pungkas Anton.

Top