Penjualan Tesla Kian Laris Manis di Jakarta

Bebas BBNKB, Penjualan Tesla Meningkat Pesat – Tesla memang menjadi salah satu mobil ramah lingkungan yang diminati oleh banyak orang di Indonesia, khususnya para konglomerat. Maka, tak heran jika penjualannya pun terbilang cukup positif.

Apalagi, setelah Pemrov DKI Jakarta mulai menggulirkan regulasi soal pembebasan pajak BBNKB untuk mobil listrik murni bermesin baterai elektrik, seperti Tesla mulai Januari 2020 lalu. Dan, hal itu pun terbukti, Tesla mulai diincar banyak oleh para konsumen, khususnya di ibu kota.

Bebas BBNKB, Penjualan Tesla Meningkat Pesat

Dalam hal ini, Rudy Salim selaku Presiden Direktur Prestige Image Motorcars (PIM) sebagai importir umum untuk mobil Tesla di Tanah Air, sempat memberikan pernyataan bahwa saat ini, respon konsumen pada mobil Tesla, dalam soal ini Tesla Model 3 dinilai sudah sangat baik. Menurutnya, hal ini tak lepas dari diberlakukannya sistem bebas BBNKB oleh Pemrov DKI Jakarta.

“Setelah bebas BBN-KB kemarin ini mulai meningkat, kalau dulu benar-benar cuma bisa dihitung pakai jari, orang masih awam soal teknologi mobil listrik, masih khawatir soal perawatan dan spare parts,” kata Rudi belum lama ini pada Kamis (13/2/2020).

Hal ini tentu saja merupakan sebuah keputusan positif dari pihak pemerintah (DKI Jakara) terhadap Tesla dan konsumen. So, tak heran jika regulasi bebas BBNKB tersebut memicu masyarakat untuk membeli mobil mewah bertenaga listrik tersebut.

“Sekarang setelah didukung pemerintah keluarnya Perpres Nomer 55 tentang percepatan kendaraan listrik dan BBN-KB nol, mulai terasa,” katanya.

Di satu sisi, Rudy juga sempat memberikan ungkapan bahwa sejak resmi dirilis di Tanah Air pada September 2019 lalu, Tesla Model 3 adalah mobil buatan Tesla yang paling laris di pasar nasional. Hal itu, menurutnya tak lepas juga dari harganya yang lebih murah ketimbang model X dan S yang sebelumnya sudah diluncurkan.

Namun, Rudy tak menampik bahwa segmen pasar Tesla masih berada di kalangan para konglomerat, baik dari artis maupun pejabat negara. Wajar, mengingat harganya yang meski dibilang standar namun masih terlalu tinggi untuk mayoritas masyarakat Indonesia.

Top