Produsen Komponen Otomotif Lokal Saat ini Diambang Kehancuran

Produsen Komponen Otomotif Lokal Diambang Kehancuran – Kabar kurang menggembirakan kali ini menyelimuti dunia otomotif lokal tanah air. Dimana informasi yang beredar dari Perkumpulan Industri Kecil-Menengah Komponen Otomotif (PIKO) menyatakan bahwa lima perusahaan anggota PIKO positif dinyatakan tutup. Sementara itu empat anggota lainnya yang masih aktif saat ini berada ada ambang kehancuran. Cukup memprihatinkan memang, namun informasi tersebut benar-benar terjadi yang diungkapkan oleh Rony Hermawan selaku Jendral PIKO yang sekaligus petinggi PT Nisaka Logamindo dan PT Nandya Karya Perkasa.

Produsen Komponen Otomotif Lokal Saat ini Diambang Kehancuran

“Tahun ini sudah ada 5 perusahaan anggota industri otomotif yang memproduksi komponen lokal telah tutup, diantaranya PT Tangguh Dwibaja, PT Thasima Daya Sentosa dan PT Madani Utama, dua lagi tidak mau disebarkan. Sementara 4 perusahaan lagi tinggal menunggu nasib,” ungkap Rony seperti dilansir oleh laman DapurPacu, Selasa (4/8/2015).

Diketahui kondisi yang sangat memprihatinkan bagi para industri otomotif yang memproduksi komponen lokal tersebut dikarenakan dibukanya keran masuk pada pelaku usaha industri kecil menengah (IKM) asal Jepang dalam waktu dua tahun terakhir ini.

Kehadiran mereka lantas langsung membunuh IKM lokal yang telah beroperasi sejak lama dan menjadi penyuplai baik first layar maupun second layer ke seluruh produsen otomotif baik itu motor atau mobil, jenis kendaraan lainnya yang ada di Indonesia. Akhirnya dengan dibukanya keran masuk tersebut kini IKM Jepang secara sporadis menguasai hingga 85 persen pasar pasok komponen lokal di Indonesia.

Fakta lainnya diketahui IKM Jepang yang masuk ternyata dibawa langsung oleh produsen otomotif yang ada di Indonesia. Dengan hal tersebut maka membuat para produsen datang ke IKM Lokal tidak secara mandiri.

“Hal ini membuat produsen otomotif Jepang secara otomatis lebih memilih IKM asal negara mereka sendiri daripada yang lokal. Padahal secara kualitas dan harga IKM lokal bersaing, malah lebih murah. Jadi murni pertimbangan mereka hanya nasionalisme,” ungkap Rony.

“Misalnya terjadi PT Nandya Karya Perkasa, merupakan penyuplai OEM untuk Astra Honda Motor. Saat itu kita mencoba masuk ke Honda Prospect Motor, namun tidak bisa karena harus lewat IKM Jepang yang mereka tunjuk terlebih dulu. Setelah kita coba cek perusahaannya, ternyata hanya kantor kecil dengan meja dan bangku saja. Hampir tidak ada aktifitas laiknya sebuah pabrik komponen. Jadi kita dipaksa hanya bermain di second layer,” tutupnya. Baca juga Honda Mobilio Jadi Armada Baru Blue Bird dan Cara Deteksi Kampas Rem Telah Habis.

Top